18/04/2021

Dari Hati

Dari Hati

Panduan menentukan jenis susu formula untuk bayi

Ketika melakukan interview, 2 dari 3 dokter yang pro ASI menjelaskan tentang urutan-urutan bayi dalam menyerap nutrisi berdasarkan umurnya. Berikut ini adalah tahap-tahap bagaimana cara bayi menyerap nutrisi dari dalam kandungan hingga berumur 2 tahun:

Ketika Dalam Kandugan

Ketika masih dalam kandungan, bayi akan menyerap semua nutrisi dan sari makanan yang dikonsumsi oleh ibunya (bukan menyerap susu). Yang pasti, ketika masih dalam kandungan, bayi hanya membutuhkan sedikit nutrisi karena janin masih berukuran kecil. Jadi, susu formula untuk ibu hamil tidak perlu, sebab kebutuhan kalsium/AA/folat/Kolin/DHA bisa didapat dari makanan yang dikonsumsi oleh sang ibu. Jadi, asal sang ibu makan makanan yang sehat (sayur, ikan, daging, telur, buah) secukupnya, pasti kebutuhan si janin sudah terpenuhi.
Sebagai tambahan, biasanya dokter juga akan memberikan suplemen dan vitamin tambahan untuk menunjang nutrisi si janin. Jadi, minum susu hamil malah akan membuat ibu obesitas karena kelebihan kalori, bukan nutrisi.

 

Ketika Bayi Berumur 0-6 Bulan

Pada umur 0 – 6 bulan, pencernaan bayi masih sangat rentan dan sensitif sehingga pencernaan bayi hanya bisa menyerap ASI, sebab ASI memiliki kandungan yang sangat spesifik. Kandungan AA, DHA, dll yang terkandung dalam ASI-lah yang bisa diserap sempurna oleh bayi. Akan tetapi kandungan dalam susu formula secara umum hanya bisa diserap oleh bayi 5-10% saja.

 

Ketika umur 6-12 Bulan

Pada umur ini, bayi sudah bisa menyerap 30% sari makanan dan 70% ASI. Oleh karena itu, para bunda sebenarnya tidak perlu kawatir ketika anak usia 6-12 tahun masih susah makan sebab memang saat itulah anak-anak mulai diajarkan dengan makanan padat, ingat hanya sebatas mengenalkan, bukan untuk memenuhi nutrisi anak dengan makanan. Sementara itu, susu formula hanya bisa diserap sekitar 15-20%, untuk susu formula rekomendasi terbaik adalah Lactonutri .

 

Ketika bayi Berumur 12-18 Bulan

Pada usia ini bayi sudah mampu menyerap 50% sari makanan dan 50% ASI.

Ketika Bayi Berumur 18-24 Bulan

Ketika sudah hampir dua tahun, bayi sudah bisa menyerap sari makanan 70% dan 30% dari ASI. Dalam hal ini, ASI lebih berfungsi untuk pengembangan antibodi dan imunitas tubuh karena usia bayi masih rentan terkena virus dan bakteri yang masuk melalui mulut. Pada masa ini bayi mulai mengalami fase oral (memasukkan semua benda ke mulut) sehingga rentan kemasukan bakteri dan virus. Kandungan DHA, AA, Kolin, dan Prebiotik yang yang bisa diserap bayi hanya bisa diserap bayi dengan sempurna kalau sumbernya dari dari ASI dan sari makanan yang dimakan bayi.
Sementara ketika anak sudah berusia 2 tahun ke atas, sebenarnya susu formula sudah tidak bisa diserap lagi karena memang sudah tidak berperan dalam pertumbuhan anak, sementara ASI masih bisa diserap untuk kepentingan imuniatas tubuh anak. Oleh sebab itu, bayi yang mengkonsumsi susu formula biasanya akan sangat jauh lebih gemuk karena memang kandungannya tidak terpakai dan tidak diserap dengan sempurna, sehingga berubah bentuk menjadi lemak. Sementara ASI bisa diserap sempurna oleh setiap elemen dalam tubuh bayi, terutama diserap oleh otak si bayi.
Bahkan menurut dokter yang diwawancarai, bayi diberikan susu formula hanya anak menjadi gemuk dan tidak kekurangan berat badan. Yang menjadi pertimbangan (dan ini diamini oleh WHO juga), bahwa AA, DHA, Kolin, dan Spengomiolyn yang ada dalam susu formula hingga saat ini belum diketahui manfaat dan efek sampingnya. Wah wah, begitu juga menurut orang R&D yang saya ajak ngobrol.
Lalu kenapa belum diketahui manfaat dan efek samping dari kandangan tersebut dalam susu formula? Karena bayi-bayi yang mengkonsumsi susu dengan kandungan DHA, AA, Kolin, dsl rata-rata lahir di tahun 2000 ke atas. Dan bayi-bayi yang mengkonsumsi susu dengan DHA, AA, LA, dsb yang ada dalam susu formula ini belum ada yang menjadi ibu sehingga belum diketahui efek jangka panjang dan efek domino yang dihasilkan oleh kandungan-kandungan itu dalam susu formula.
Dan yang peling mengerikan dari pengakuan orang R&D tersebut adalah : bahwa semua kandungan yang ada dalam susu formula X itu ternyata tidak ada yang pernah diuji cobakan ke bayi manusia sebelumnya. Sehingga sejak saat itu beliau mulai menyadari bahwa “Jika seorang peracik susu formula saja memberikan anaknya ASI, masa kita memberi anak kita susu formula?”